Tampilkan postingan dengan label FiktifBelaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FiktifBelaka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

After I Love You

"Lelaki yang berjalan itu adalah lelaki yang pernah ada untukku,"
"Dia?"
"Iya, namun sekarang dia untuk orang lain. Pastinya yang lebih pantas dariku,"
"Dari mana kamu tahu orang lain itu lebih pantas untuknya?"
"Haha, pikirku begitu,"
"Kok kamu berfikir seperti itu?"
"Bayangkan saja, dia bersamanya lebih lama daripada saat aku bersamanya,"
"Kenapa kamu melepasnya?"
"Aku ingin pergi saja,"
"Tapi kamu masih cinta?"
"Sangat..."

Setelah aku berhenti mencintaimu, aku lupa bagaimana cara membencimu. Untuk tidak mencintaimu saja aku gagal. Bagaimana aku bisa membencimu?

Aku yang menjauh darimu, tapi aku yang makin ingin padamu. Jangan pernah ke mari lagi, kamu sudah tak mencintaiku. Teruskan kepergianmu dan sekali lagi jangan menengok padaku. Aku pergi, sayang... Aku sudah tak mencintaimu! Setelah aku mencintaimu, aku makin mencintaimu.  

Sabtu, 10 Agustus 2013

Carikan Aku Rasa Sakit! #2

Aku menemuinya lagi sore ini. Aku berharap tak menemukan lukaku kembali robek.

"Udah lama, nih?"
"Belum kok. Sepuluh menitan,"
"Hmm. Oiya, gimana sekarang hubunganmu?"
"Semakin membaik sih. Sekarang dia udah sedikit-sedikit nggak cuek sama aku,"
"Kalau begitu jadi bagus deh,"
"Semoga seperti ini terus. Aku nggak mau jika harus pisah sama dia. Aku sayang banget sama dia,"
=====
Kenapa? Kenapa kamu harus berkata seperti itu? Kenapa kamu rela merobek lukaku lagi? Cukup kau carikan aku sakit sampai di sini. Sebenarnya aku ingin pergi dan menangis sampai aku lelah dan tertidur di atas air mataku. Tapi aku sedang bersamamu yang tak mengerti rasa hatiku. Aku tak lebih dari angin lalu untuk hidupmu.
=====
"Iya. Semoga semakin baik," aku lelah berkata.
"Oiya, akhir-akhir ini aku lihat kok kamu lebih banyak diam dari biasanya? Kamu sakit?"
=====
Iya, aku sakit. Tapi kamu tidak tahu ini karenamu. Karena aku hanya angin lalu.
=====
"Eng...Enggak kok. Masa iya aku diem? Perasaanmu aja kali haha,"
"Ehm. Mungkin aja, tapi aku ngerasa kamu lebih diem gitu sih,"
"Enggak,kok"
=====


Dulu sewaktu kita masih anak-anak. Aku suka melihatmu tertawa. Entah mengapa aku kagum melihat deretan gigimu terlihat ketika kamu tertawa lepas. Menertawakan ibumu yang ngomel pagi-pagi karena kamu terlambat bangun. Atau tertawa melihat rambutku yang kau siram dengan daun petai cina.

Setiap sore jika musimnya layang-layang, aku selalu mengintip mu bermain bersama temanmu di hamparan sawah belakang rumahku. Sama, hanya ingin melihatmu tertawa lepas. Sudah selama itu separuh dari hatimu lepas dari mu dan pergi ke hatiku. Aku dan kamu masih sekecil itu. Tapi aku sudah merasakan kamu begitu perkasa untuk menjadi pendampingku.

Kamu pernah menggendongku ketika aku terjatuh. Aku mendengar engah mu. Aku melihat wajah lelahmu. Dan aku melihat ketulusanmu. Kamu dan aku masih sekecil itu. Sekarang aku menginginkan aku dan kamu menjadi kecil, menjadi anak-anak lagi, aku ingin merasakan ketulusanmu yang sekarang tak pernah kudapatkan.

Kamu juga pernah memberiku bunga kertas merah hati. Kamu tersenyum begitu bunga itu ada di tanganku. Kemudian kamu pergi dan kembali membawa sepedamu dan memboncengku. Kau bawa aku ke sana ke mari, melihat danau, beristirahat, memberi makan burung-burung dengan cuilan kue yang sengaja kau bawa. Aku merasa sangat engkau jaga. Sejak itulah aku selalu menganggapmu pangeranku.


=====
"Ferin, kita dulu pernah anak-anak ya?"
"Iya,dong"
"Kita sering jalan bareng. Kita suka boncengan bareng,"
"Hahaha iya, kita sering seperti itu,"
"Kita dulu lucu ya. Aku suka senyum kamu,"
"Iya, kita dulu lucu. Hmmm,"
"Tapi sekarang kita udah gede gini. Udah pada ngerti cinta. Dulu aku pernah ngasih bunga ke kamu, aku ngerti kalau kamu sahabat baik aku banget,"
Aku hanya tersenyum. Ternyata Zafan masih ingat kenangan itu.
"Ehm. Kok diem?"
"Hehe, nggak papa,"
"Kapan kamu mau punya pacar? Jomblo terus nih,"
"Kapan-kapan aja, aku lagi pengen fokus sekolah dulu,"
"O gitu. Iya, ya kamu orangnya dari dulu emang kayak gitu,"
"Iya.."
"Udah mau malem nih. Pulang, yuk!"
"Iya, yaudah kamu pulang dulu aku mau nunggu taksi ya,"
"Kamu sama aku aja. Lagian yang ngajak ketemu kan aku, masak aku ninggalin kamu,"
"Udah, nggak papa,"
"Alah, aku nggak enak sama kamu, ayo naik! Itung-itung mengenang masa kanak-kanak," Zafan memamerkan tawa beserta deretan giginya. Aku suka itu! Tapi yang dulu..
"Yaudah.." aku luluh.
=====

Carikan Aku Rasa Sakit!

"Sudahkah kamu bertemu dengan wanita yang kamu cintai?" tersenyum dengan maksud menyembunyikan perih yang menyembul.
"Belum. Namun aku rindu padanya"
"Kenapa belum?" sebenarnya aku ingin tertawa, aku senang. Tapi dia, seseorang yang begitu kucintai telah menyimpan keperihan di hati. Wajahku ikut sepertinya.
"Belum ada waktu buat ketemu sama dia. Dia cuek sama aku"
"Oh. Kenapa ada orang yang bisa cuek ya sama kamu hahaha. Aku saja hampir tidak bisa" tawaku renyah, maksudku memecah kesedihannya.
"Hemm. Aku manusia biasa" dia tersenyum. Kalau saja dia tahu. Aku merindukan senyumnya sebelum ini. Sebelum dia bersama wanitanya. Sebelum dia merasakan jatuh cinta. Saat dia masih merasa dia begitu muda.
"Apa kamu pernah merasakan cinta selain cintamu pada pacarmu sekarang ini?" Tanganku dingin. Aku masih tersenyum. Begitulah, hatiku masih teriris.
"Gimana ya" jawabnya datar.
"Ceritalah. Mungkin aku cocok menjadi teman curhatmu. Tenang saja, jika kamu mau menutupinya dari pacarmu, aku bisa" lagi-lagi aku tersenyum.
"Belum. Aku belum pernah mencintai seseorang selain dia dan ibuku. Dia cinta pertamaku. Dan dia sangat istimewa" dia kembali mengiris hatiku tanpa diketahuinya. Akupun juga bodoh. Mengapa bertanya seperti itu! Aku ini ingin mencari rasa sakit! Selalu begitu kalau sedang bersamanya. Namun mengapa aku betah? Entah..
"Jadi kamu ingin selalu menjaga cintamu untuk dia begitu sebaliknya?" ingin kututup sekarang mulutku. Dia hanya semakin melebarkan sakitku!
"Ya, begitu" cukup sakit jawaban darinya.

Kucukupkan sakitku sampai di situ. Terimakasih atas pencarian rasa sakit itu padaku. Aku memang tak pernah bersamamu. Aku mencintaimu setulus apapun. Jika bisa jangan sudahi cintamu kepada kekasihmu. Itupun jika perkataanku tidak munafik.